Salman menaruh sepeda dihalaman rumahnya & langsung memberitahukan kabar baik kepada ibunya."Alhamdulillah bu, aku diterima di fakultas matematika Universitas Ilmu Bermanfaat" ujar Salman penuh rona gembira yang terlihat diwajahnya."Syukur alhamdulillah le kalau kamu diterima, ibu bangga sama kamu le, ingat ya le, sekarang kamu mesti rajin belajar & nggak banyak berkhayal lagi" jawab bu Fatimah penuh rasa syukur.
"Injih bu, insyaallah Salman akan lebih giat dalam belajar seperti pesan bapak dulu sebelum meninggal, semoga Salman bisa mewujudkan amanah bapak, amin"."Ya sudah le, kamu doakan saja bapak biar dia diterima & mendapat tempat terindah disisi Allah SWT, amin".
***1 Tahun kemudian
Salman pun menimba ilmu dengan di Universitas Ilmu Bermanfaat,dia mendapatkan bea siswa & menjadi assisten dosen.
"Lihat itu si stres, asisten dosen jualan jajanan keliling kampus, kalian tahu nggak apa isi didalam tas si stress ini...." ujar Ilham meledek."Memangnya apa sob isinya...?" Irfan menambahi."Isinya sudah pasti foto-foto mobil mewah yang selalu dia mimpikan sejak dulu, tapi apa kenyataannya...??? tetap saja bersanding dengan sepeda bututnya & kesengsaraan ...!!!! makanya jadi orang jangan kebanyakan mimpi...!!!".
"Memangnya kenapa kalau aku jualan jajanan....? bukankah itu pekerjaan yang halal, sebaiknya kamu berkaca diri sudah berapa banyak uang bapakmu yang kamu hambur-hamburkan, kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya perjuangan mencapai semua itu" .
"Buat apa aku mesti susah payah , kekayaan orang tuaku nggak akan habis 7 turunan, kamu kan tahu bapakku juragan tambang mangan sukses, orang paling ngetop & nomor satu...!!!".
Sudahlah Man, nggak usah diladenin buang waktu aja ngurusi mereka sebaiknya kita segera keruangan dosen" Ardi melerai pertengkaran & mengajak Salman bersegera keruangan dosen.
"Mau kemana kalian..... wah payah..... katro semua lho.....!!! ledek Ilham & sekumpulannya yang terus mentertawakan Salman & Ardi.
"Sudahlah Man,kamu bersabar aja jangan terlalu diambil hati perkataan Ilham & komplotannnya itu, kamu sudah ku anggap sebagi saudaraku sendiri Man, jadi aku nggak ingin melihatkamu bersedih, semua manusia pasti punya mimpi, untuk meraih mimpi itu butuh banyak sekali perjuangan & waktu" Ardi sedikit memberi masukan pada Salman yang cemberut.
"Terima kasih Ar, aku akan jalani semua ini dengan besar hati, sebaiknya kita segera keruangan Dosen".
7 Tahun Kemudian
Tak terasa bergulirnya waktu, Salman telah merampungkan kuliahnya. Sudah dua tahun ini Salman menjadi seorang guru sukarelawan di sebuah SMP yang gajinya sudah pasti sangat jauh dari cukup namun Salman menjalaninya dengan sabar & telaten. Bagi Salman tidak ada ruginya mengajarkan ilmunya meski digaji sangat kecil namun seperti ada sesuatu yang tak bisa dinilai dengan uang.
"Bu, Salman berangkat ngajar dulu, assalamualaikum"."Walaikum salam...." jawab bu Fatimah seraya menyambut salaman Salman
Dengan menenteng kresek hitam yang berisi jajanan untuk dijual dikantin sekolah, Salman berangkat mengajar menaiki sepeda kesayangannya.
"Ayahmu pasti bangga punya anak seperti kamu Salman, semoga kelak kamu akan mendapat kemuliaan dari GustiAllah didunia & akhiratmu...amin" gumam bu Fatimah dalam hati yang melihat ketekunan Salman menjalani hidup.
***"Man, kamu masih ingat sama aku...? tanya seorang pria berkacamata di ruang guru."Subhanallah Ardi, ......." Salman terkejut & langsung memeluk Ardi.
"Gimana kabarmu Ar...? Wah, kamu sekarang sukses kelihatannya Ar, memangnya kamu kerja dimana...? sudah lama sekali aku merindukanmu, sejak kita wisuda tak sekalipun kita berjumpa".
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat sekarang, Iya Man, aku juga kangen sekali sama kamu, aku bekerja diperusahaan IT Man, sesuai kemahiranku dalam komputer & teknologi, ketepatan saat ini aku pindah tugas didaerah ini selama beberapa hari kedepan,kebetulan juga aku disini untuk memasang program internet untuk sekolah, sahabatku ini memang pantes jadi guru.... gimana kabar kamu & ibumu Man?
"Kamu bisa aja Ar, aku masih belum pegawai negri, disini aku hanya membantu mengajar, yach itung-itung nambah pengalaman & pendewasaan diri dalam menyikapi hidup".
"Salut aku dengan semangatmu Man, daridulu kamu nggak pernah berubah tetap seperti Salman yang dulu, yang mempunyai semangat tinggi & penuh kesabaran dalam melakukan sesuatu, ya udah Man aku mesti pamit dulu, sampaikan salamku buat ibumu, lain waktu aku ingin main kerumah mu boleh kan Man...?" .
"Kamu terlalu membesarkanku Ar, seperti siapa saja kamu ini,sudah pasti dengan senang hati aku sangat berkenan kamu bisa silaturahim kegubukku".
"Ya sudah Man,aku pamit dulu.... Assalamualaikum..."."walaikum salam".
Ardipun berlalu dengan senyuman hangatnya yang masih melekat dibenak Salman, rasanya sedikit kerinduan Salman terhadap sahabatnya terobati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar